JAKARTA — Jakarta disebut menjadi kota dengan penduduk terbanyak di dunia. Dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) World Urbanization Prospects 2025, jumlah penduduk kawasan perkotaan Jakarta diperkirakan mencapai hampir 42 juta jiwa.
Laporan tersebut dirilis PBB pada 18 November 2025. Penghitungan itu menggunakan metode Degree of Urbanization, sehingga wilayah perkotaan yang saling terhubung ikut masuk dalam satu kawasan perhitungan.
Dengan metode tersebut, Jakarta berada di posisi pertama, disusul Dhaka di Bangladesh dan Tokyo di Jepang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jumlah hampir 42 juta jiwa itu berbeda dengan jumlah penduduk berdasarkan administrasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada 27 November 2025, Pemprov DKI Jakarta memberikan penjelasan mengenai angka tersebut. Pemerintah daerah menyebut angka 42 juta jiwa merupakan hasil penghitungan dengan metode yang digunakan PBB.
Artinya, angka tersebut tidak menunjukkan jumlah penduduk yang seluruhnya tinggal di dalam batas administrasi DKI Jakarta.
Kawasan yang berada di sekitar Jakarta juga masuk dalam pembahasan karena wilayah perkotaannya sudah saling terhubung.
Kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas warga di wilayah Jabodetabek. Setiap hari terdapat warga dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan daerah lainnya yang melakukan perjalanan menuju Jakarta untuk bekerja maupun kegiatan lainnya.
Data perjalanan masyarakat Jabodetabek juga menunjukkan tingginya pergerakan warga menuju Jakarta.
Dalam laporan CNBC Indonesia yang terbit pada 24 Agustus 2026, persoalan tersebut dibahas bersamaan dengan perbedaan kemampuan anggaran pemerintah daerah di kawasan sekitar Jakarta.
Anggaran Jakarta disebut berada di sekitar Rp80 triliun. Sementara itu, anggaran Depok berada pada kisaran Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.
Perbedaan anggaran tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam melihat hubungan Jakarta dengan daerah penyangga.
Selain jumlah penduduk, pergerakan warga juga berkaitan dengan kebutuhan transportasi antardaerah.
Warga yang tinggal di Bekasi atau Depok tetapi bekerja di Jakarta membutuhkan layanan transportasi untuk perjalanan setiap hari. Perjalanan tersebut berlangsung melalui berbagai moda, mulai dari kendaraan pribadi hingga angkutan umum.
Kawasan Jabodetabek juga menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kepadatan lalu lintas dan kualitas udara.
Sejumlah kajian sebelumnya menyebut persoalan transportasi dan polusi udara di wilayah Jabodetabek tidak hanya berkaitan dengan satu wilayah administrasi.
Jakarta sendiri memiliki jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa berdasarkan data administrasi kependudukan. Angka tersebut berbeda dengan jumlah hampir 42 juta jiwa yang tercantum dalam laporan PBB karena metode penghitungannya berbeda.
Dengan metode administrasi, jumlah penduduk Jakarta tidak mencapai 42 juta jiwa.
Sementara dalam metode Degree of Urbanization yang digunakan PBB, kawasan perkotaan Jakarta dihitung berdasarkan wilayah yang memiliki keterhubungan secara perkotaan.
Perbedaan metode tersebut menjadi alasan munculnya dua angka penduduk yang berbeda untuk Jakarta.
Laporan PBB tersebut kemudian menjadi dasar pembahasan mengenai posisi Jakarta dibandingkan kota-kota besar lain di dunia, sekaligus kaitannya dengan kawasan perkotaan di sekitarnya seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang.








Komentar