KLATEN – Sop Ayam Pak Min Klaten kini dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris dari Jawa Tengah dengan sekitar 40 cabang di berbagai daerah. Namun, kesuksesan usaha keluarga ini berawal dari perjuangan sederhana Tugimin atau Pak Min yang dahulu menjajakan sop ayam menggunakan pikulan sambil berkeliling dari kampung ke kampung.
Usaha kuliner tersebut dirintis Pak Min bersama istrinya, Wagiyem, sejak dekade 1960-an. Saat itu, Pak Min belum memiliki warung tetap sehingga harus membawa dagangannya berkeliling untuk menawarkan sop ayam kepada masyarakat.
Anak keempat Pak Min, Tukiman atau akrab disapa Pak Ragil, menceritakan bahwa ayahnya menjalani usaha dengan cara dipikul selama kurang lebih 10 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pikulannya, Pak Min membawa kuah sop, ayam yang telah dibumbui, nasi, serta berbagai pelengkap lainnya. Ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain hingga mengakhiri perjalanan di kawasan Terminal Klaten.
Pak Min biasanya mulai berjualan sejak pagi hingga sore hari. Sementara itu, sang istri, Wagiyem, membantu menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sop ayam.
Perjuangan membangun usaha tersebut tidak selalu mudah. Pada awal berjualan, sop ayam Pak Min belum banyak dikenal sehingga dagangannya terkadang masih tersisa. Beratnya pikulan yang dibawa juga pernah membuat kuah sop tumpah saat ia berkeliling.
Meski menghadapi berbagai kendala, Pak Min tetap tekun menjalankan usahanya. Ia terus mempertahankan dan menyempurnakan cita rasa sop ayam yang menjadi ciri khas dagangannya.
Berawal dari Pikulan hingga Membuka Warung
Seiring bertambahnya pelanggan, usaha Sop Ayam Pak Min mulai berkembang. Cara berjualan yang awalnya menggunakan pikulan kemudian beralih dengan gerobak.
Pada dekade 1980-an, keluarga Pak Min membuka warung pertama di kawasan Pasar Gede Klaten. Kehadiran warung tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan usaha kuliner keluarga itu.
Saat itu, proses memasak masih menggunakan kayu bakar. Warung di Pasar Gede Klaten tersebut bertahan hingga 1998 dan menjadi tempat yang ramai dikunjungi pelanggan.
Perkembangan usaha berlanjut pada 1999 dengan dibukanya cabang pertama di Jalan Mayor Kusmanto, Desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara.
Pengelolaan usaha kemudian diteruskan oleh keempat anak Pak Min, yakni Sihono, Sih Mulyoto, Triyono, dan Tukiman. Mereka turut mengembangkan cabang-cabang Sop Ayam Pak Min dengan tetap mempertahankan resep keluarga.
Sop Ayam Pak Min Kini Punya Sekitar 40 Cabang
Perjalanan panjang dari berjualan menggunakan pikulan akhirnya membawa Sop Ayam Pak Min berkembang menjadi usaha kuliner dengan jaringan cabang di berbagai daerah.
Hingga kini, Sop Ayam Pak Min Klaten telah memiliki sekitar 40 cabang yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Meski dikelola oleh anggota keluarga yang berbeda, cita rasa sop ayam tetap dijaga agar sesuai dengan resep yang diwariskan Pak Min.
Tukiman, yang mengelola sejumlah cabang, rutin mengunjungi warung-warung di bawah pengelolaannya untuk mencicipi masakan. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan rasa sop ayam tetap konsisten di setiap cabang.
Menurutnya, kualitas rasa perlu dijaga karena kondisi bahan baku, termasuk air yang digunakan untuk memasak, dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Keluarga Pak Min juga belum berencana membuka sistem waralaba atau franchise. Cabang-cabang yang ada saat ini masih dikelola oleh anggota keluarga untuk menjaga resep dan kualitas sop ayam sebagai warisan orang tua.
Kisah Sop Ayam Pak Min Klaten menjadi gambaran perjalanan usaha kuliner keluarga yang tumbuh melalui ketekunan dan konsistensi. Dari berjualan dengan pikulan keliling kampung, usaha tersebut kini berkembang hingga memiliki sekitar 40 cabang dan dikenal sebagai salah satu kuliner khas Kabupaten Klaten.








Komentar