Utha Kelo dan Nasi Jagung, Sajian Khas Kaili yang Menyatukan Warga Palu

- Author

Jumat, 16 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PALU – Sajian kuliner tradisional khas Kaili menjadi cara ibu-ibu di BTN Lasoani Indah, Kota Palu, Sulawesi Tengah, untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya daerah. Melalui kegiatan makan bersama di Pos RT 05 RW 06, mereka menghadirkan sejumlah hidangan khas, mulai dari nasi jagung, duwosole, ikan bakar, hingga sayur kelor atau utha kelo.

Kegiatan sederhana tersebut berlangsung dalam suasana akrab. Para ibu berkumpul, menyiapkan makanan, kemudian menikmati hidangan bersama warga sekitar. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk kembali menghadirkan cita rasa masakan tradisional Kaili di tengah masyarakat.

Salah seorang warga, Ibu Lita, mengatakan kegiatan makan bersama itu berawal dari keinginan ibu-ibu untuk berkumpul dan melakukan aktivitas sederhana di lingkungan tempat tinggal mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kebetulan lagi ngumpul bersama tetangga, sesekali kita bikin acara kecil untuk ibu-ibu yang bisa ngumpul di Pos RT. Kebetulan juga sayur kelor di kompleks kita lagi banyak, timbul keinginan ingin masak kelor,” kata Ibu Lita.

Menurutnya, banyaknya tanaman kelor di lingkungan kompleks menjadi salah satu alasan untuk mengolahnya menjadi hidangan bersama. Sayur kelor yang dikenal sebagai salah satu sajian khas masyarakat Kaili pun menjadi bagian dari menu yang dihidangkan.

Selain utha kelo, nasi jagung, duwosole, dan ikan bakar turut melengkapi sajian dalam kegiatan tersebut. Hidangan-hidangan itu mencerminkan kekayaan kuliner lokal yang masih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Tengah.

Kegiatan makan bersama ini tidak hanya menghadirkan suasana kekeluargaan, tetapi juga menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenalkan dan mempertahankan kuliner tradisional kepada generasi berikutnya.

Melalui kebersamaan di lingkungan tempat tinggal, warga berharap tradisi kuliner khas Kaili tetap dikenal dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Sajian rumahan seperti utha kelo dan nasi jagung pun menjadi pengingat bahwa makanan tradisional memiliki nilai lebih dari sekadar hidangan, yakni sebagai bagian dari identitas budaya dan perekat hubungan sosial masyarakat.

Baca Juga:  Wow Spageti Harga Rp3 Ribuan, Varian Carbonara Jadi Favorit

Berita Terkait

Ingin Sayur Lodeh Seenak Warteg? Ini Rahasia Bumbu Kuah Gurih dan Wangi
Dulu Jadi Santapan Kuli Bangunan, Warteg Kini Jadi Favorit Semua Kalangan
Dulu Dipikul Keliling Kampung, Sop Ayam Pak Min Klaten Kini Punya 40 Cabang
Kulitnya Gundul, Rasanya Mirip Rambutan! Mengenal Buah Unik dari Kalimantan
Kuliner Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu, Jagung Bakar Tetap Diburu
Dikira Ban Bocor, Pengendara Mobil di Bekasi Malah Kehilangan Barang Rp20 Juta
Cuma Rp10 Ribu per Kotak! Kue Apem Barabai Hadir di Jalan Masjid Jami Banjarmasin
Cuma Buka Setiap Minggu Pagi, Es Pisang Ijo Fitri Tawarkan Sensasi Segar di Banjarmasin

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Ingin Sayur Lodeh Seenak Warteg? Ini Rahasia Bumbu Kuah Gurih dan Wangi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:33 WIB

Dulu Jadi Santapan Kuli Bangunan, Warteg Kini Jadi Favorit Semua Kalangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:51 WIB

Kulitnya Gundul, Rasanya Mirip Rambutan! Mengenal Buah Unik dari Kalimantan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kuliner Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu, Jagung Bakar Tetap Diburu

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:47 WIB

Dikira Ban Bocor, Pengendara Mobil di Bekasi Malah Kehilangan Barang Rp20 Juta

Berita Terbaru

Sport

De Bruyne Ikut Pesta Gol, Napoli Permalukan Monza 4-1

Jumat, 30 Okt 2026 - 17:06 WIB

Daerah

Rudi Harfisar Dipanggil Lagi, Perindo Benda Siap Bergerak!

Jumat, 30 Okt 2026 - 16:34 WIB