JAKARTA – Matcha semakin populer sebagai bahan berbagai makanan dan minuman kekinian. Namun, di tengah tren tersebut, muncul kritik terhadap penggunaan gula, susu, krim, dan aneka topping yang dinilai membuat cita rasa asli matcha semakin tersamarkan. Bahan yang dikenal dengan karakter pahit dan aroma khas teh hijau itu kini kerap hadir dalam sajian dengan rasa manis yang lebih dominan.
Persoalan tersebut disoroti Noor Annisa Falachul Firdausi dalam tulisan opini yang diterbitkan Terminal Mojok pada 23 Agustus 2026. Ia menyoroti bagaimana industri makanan dan minuman memanfaatkan popularitas matcha sebagai daya tarik pemasaran, bahkan dengan menggabungkannya ke berbagai produk yang dinilai kurang sesuai dari segi cita rasa.
Rasa Asli Matcha Tertutup Gula dan Susu
Matcha merupakan teh hijau berbentuk bubuk yang berasal dari tanaman Camellia sinensis. Bahan ini memiliki karakter rasa yang khas, mulai dari sedikit pahit hingga aroma earthy yang mengingatkan pada tumbuhan atau rumput.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penyajian tradisional, bubuk matcha diayak, kemudian diseduh menggunakan air bersuhu sekitar 70–80 derajat Celsius. Setelah itu, matcha dikocok menggunakan alat khusus bernama chasen hingga menghasilkan busa.
Cara penyajian tersebut memungkinkan karakter matcha lebih terasa tanpa harus didominasi bahan tambahan. Sebaliknya, sejumlah minuman matcha kekinian memadukan bubuk teh hijau dengan gula, susu, krim kocok, dan sirup.
Campuran tersebut dapat menghasilkan minuman yang lebih manis dan lembut. Namun, jika digunakan secara berlebihan, bahan tambahan berpotensi menutupi karakter khas matcha sehingga konsumen lebih banyak merasakan gula dan susu daripada rasa tehnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana produk yang menggunakan label matcha masih mempertahankan karakter bahan utamanya.
Matcha Merambah Ramen hingga Kari
Popularitas matcha tidak hanya terlihat pada minuman, seperti latte dan berbagai sajian berbasis susu. Bahan ini juga mulai digunakan dalam beragam kreasi makanan, termasuk odeng, ramen, hingga kari.
Perluasan penggunaan matcha menunjukkan bagaimana pelaku industri kuliner berupaya menghadirkan inovasi untuk menarik perhatian konsumen. Ketika suatu bahan sedang populer, menjadikannya sebagai varian produk baru dapat menjadi strategi pemasaran yang menjanjikan.
Meski demikian, dalam pandangan penulis, tidak semua makanan dan minuman cocok dipadukan dengan matcha. Penggunaan bahan tersebut semata-mata untuk mengikuti tren berisiko mengabaikan kesesuaian rasa.
Matcha pun dapat berubah dari bahan yang dipilih karena karakter rasanya menjadi sekadar daya tarik untuk membuat produk terlihat berbeda. Akibatnya, popularitas lebih menonjol daripada kualitas perpaduan bahan dan pengalaman menikmati makanan itu sendiri.
Tren Matcha Mengubah Persepsi Konsumen
Matcha kini menjadi bagian dari tren kuliner, terutama di kalangan anak muda. Berbagai produk dengan label matcha bermunculan dan menawarkan pengalaman baru bagi konsumen yang ingin mencoba rasa berbeda.
Namun, tren tersebut juga berpotensi membentuk persepsi bahwa rasa matcha identik dengan minuman manis dan lembut. Padahal, matcha memiliki karakter rasa tersendiri yang dapat berbeda bergantung pada kualitas bahan dan cara pengolahannya.
Matcha tersedia dalam beragam tingkatan kualitas atau grade. Perbedaan bahan baku tersebut dapat memengaruhi aroma, rasa, dan karakter produk akhir.
Ketika gula, susu, serta krim digunakan dalam jumlah besar, perbedaan karakter matcha bisa menjadi lebih sulit dikenali. Konsumen pun berpotensi menilai matcha berdasarkan rasa campuran yang dominan, bukan karakter teh hijau itu sendiri.
Karena itu, kritik terhadap tren matcha bukan sekadar persoalan selera. Pembahasan ini juga menyentuh cara industri memperkenalkan suatu bahan kepada konsumen melalui produk yang mengikuti tren pasar.
Mengapa Matcha Kerap Disebut Berasa Rumput?
Sebagian orang menggambarkan rasa matcha seperti rumput. Namun, pengalaman tersebut tidak selalu berarti bahwa matcha memiliki cita rasa yang buruk.
Karakter rasa matcha dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kualitas bahan, pengolahan, dan cara penyajiannya. Matcha yang memiliki aroma tumbuhan atau sensasi grassy belum tentu menunjukkan kualitas yang rendah karena karakter tersebut dapat menjadi bagian dari profil rasanya.
Di sisi lain, penggunaan bahan tambahan secara berlebihan juga dapat membuat konsumen sulit mengenali karakter asli matcha. Jika terbiasa mengonsumsi matcha dengan banyak gula dan susu, seseorang mungkin memiliki ekspektasi rasa yang berbeda ketika mencicipi matcha dengan campuran minimal.
Oleh sebab itu, memahami karakter matcha tidak cukup hanya dengan mencoba minuman kekinian. Cara penyajian dan kualitas bahan juga perlu diperhatikan untuk mendapatkan pengalaman rasa yang lebih beragam.
Inovasi Kuliner Perlu Memperhatikan Cita Rasa
Kritik terhadap tren matcha bukan berarti bahan ini tidak boleh dikembangkan menjadi produk baru. Inovasi tetap dapat dilakukan selama perpaduan rasa diperhatikan dan karakter bahan utama tidak diabaikan.
Konsumen pun memiliki kebebasan memilih sajian sesuai selera, baik matcha dengan tambahan susu dan gula maupun sajian yang mempertahankan rasa teh hijau lebih kuat.
Namun, ketika matcha digunakan hampir di setiap jenis produk hanya untuk mengikuti tren, keistimewaan bahan tersebut berisiko tersamarkan. Popularitas yang semestinya memperkenalkan matcha kepada lebih banyak orang justru dapat membuat karakter aslinya semakin sulit dikenali.
Pada akhirnya, tantangan industri kuliner bukan sekadar menciptakan produk matcha yang menarik perhatian, melainkan menjaga keseimbangan antara kreativitas, kualitas bahan, dan cita rasa. Dengan begitu, matcha tidak hanya menjadi tren pemasaran, tetapi juga tetap dihargai karena karakter khasnya.








Komentar