SERUYAN – Misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah berujung tragedi setelah Helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat (TNI AD) bernomor registrasi HA-5235 jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan. Dua prajurit dipastikan gugur dalam kecelakaan tersebut, sementara satu kru masih dalam pencarian dan lima lainnya berhasil selamat.
Panglima Kodam XXI/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, menyampaikan pembaruan data korban pada Rabu (4/11/2026). Dari total delapan kru yang berada di dalam helikopter, dua orang meninggal dunia, satu orang belum ditemukan, sedangkan lima prajurit lainnya selamat dan menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang.
“Dari delapan kru helikopter, dua orang dipastikan meninggal dunia, satu orang masih dalam proses pencarian, dan lima prajurit lainnya berhasil selamat serta saat ini dirawat di RSUD Kuala Pembuang,” kata Zainul Arifin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua prajurit yang gugur diketahui bernama pilot Mayor Cpn Dudi dan Serda Heri. Sementara itu, satu kru yang masih dalam pencarian adalah Lettu Cpn Hafiz. Dia diduga masih berada di dalam badan helikopter yang tenggelam di dasar perairan.
Adapun lima prajurit yang selamat yakni Kapten Cpn Suganda, Lettu Cpn Fercis, Serda Sardi, Serka Kadiya, dan Pratu Gilang. Seluruh korban selamat telah dibawa ke RSUD Kuala Pembuang untuk mendapatkan penanganan medis.
Kronologi Helikopter Mi-17 Jatuh saat Misi Karhutla
Berdasarkan kronologi resmi kepolisian dan TNI AD, Helikopter Mi-17 HA-5235 mulai melakukan pemanasan mesin atau start engine pada pukul 09.55 WIB dari Kuala Pembuang.
Helikopter kemudian terbang menuju area sasaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, untuk mendukung upaya pemadaman karhutla.
Namun, sekitar pukul 11.18 WIB, helikopter mengalami gangguan teknis saat mengambil air atau melakukan water bombing di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan. Insiden tersebut menyebabkan helikopter jatuh ke perairan.
Evakuasi Korban Dilakukan Melalui Jalur Udara dan Laut
Proses evakuasi para kru langsung dilakukan setelah kecelakaan terjadi. Operasi penyelamatan mulai dikerahkan sekitar pukul 12.30 WIB dengan melibatkan jalur udara dan laut menuju Bandara Kuala Pembuang.
Para prajurit yang berhasil diselamatkan kemudian dibawa menggunakan ambulans ke RSUD Kuala Pembuang untuk mendapatkan perawatan medis.
Hingga pembaruan data yang disampaikan Pangdam XXI/Tambun Bungai pada Rabu (4/11/2026), dua prajurit TNI AD telah dinyatakan gugur, satu kru masih dalam pencarian, dan lima prajurit lainnya berhasil selamat.








Komentar