TANGERANG SELATAN — Suasana di Sekolah Islam Pamulang (SIP), Tangerang Selatan, mendadak bikin geger. Saat warga masih terlelap, sekitar pukul 03.00 WIB, pagar kawat dipasang di area sekolah. Kejadian itu kemudian memicu ketegangan antara pihak Yayasan Syarif Hidayatullah (YSH) dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keributan tersebut terjadi pada Sabtu (22/8/2026) dini hari. Kedua pihak sama-sama punya cerita soal siapa yang berhak mengelola kawasan sekolah yang menaungi TKIP dan SDIP Pamulang tersebut.
Dari pihak yayasan, Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah, Ilham Aufa, menyebut ada sekelompok orang yang datang ke lokasi sekitar pukul 03.00 WIB. Menurut dia, kelompok tersebut kemudian masuk dan memasang pagar kawat di sekitar area sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ilham menilai tindakan tersebut dilakukan sepihak. Ia juga menyebut persoalan pengelolaan sekolah itu masih berproses di jalur hukum.
“Kami meminta pihak UIN Jakarta menghormati proses hukum yang masih bergulir, baik di PTUN, Pengadilan Negeri Depok, maupun di kepolisian. Jangan melibatkan cara-cara premanisme dalam urusan dunia pendidikan,” ujar Ilham, Minggu (23/8/2026).
Menurut pihak yayasan, persoalan ini dikhawatirkan ikut membuat guru dan orang tua murid waswas. Mereka berharap masalah pengelolaan sekolah tidak sampai mengganggu kegiatan belajar anak-anak.
Sementara itu, UIN Jakarta punya cerita berbeda. Kepala Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta, Zaenal Muttaqin, membantah kalau orang-orang yang datang ke sekolah tersebut merupakan preman.
Zaenal mengatakan mereka merupakan sekuriti resmi UIN Jakarta yang ditugaskan untuk menjaga aset milik negara. Pemasangan pagar kawat, kata dia, dilakukan sebagai bagian dari pengamanan kawasan.
“Mereka bukan preman, melainkan sekuriti UIN Jakarta yang menjalankan tugas pengamanan aset negara seluas kurang lebih 8.000 meter persegi dengan nilai taksiran mencapai Rp160 miliar,” jelas Zaenal.
UIN Jakarta juga menyatakan pengamanan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Pihak kampus meminta para orang tua murid tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
Keributan yang terjadi di lokasi akhirnya mendapat perhatian aparat. Kapolres Tangerang Selatan AKBP Boy Jumalolo bersama jajaran TNI dan kepolisian turun langsung untuk meredam suasana.
Aparat meminta kedua belah pihak tidak main sendiri-sendiri dan memilih menyelesaikan persoalan lewat jalur hukum serta komunikasi. Situasi di lokasi kemudian berangsur kondusif.
Persoalan pengelolaan Sekolah Islam Pamulang ini masih menjadi perhatian karena masing-masing pihak memiliki dasar dan pandangan hukum yang berbeda. Polisi pun mengingatkan agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi keributan baru yang bisa mengganggu keamanan maupun aktivitas sekolah.








Komentar