SUNGAILIAT – Wajik ketan gula merah menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih eksis di tengah perkembangan zaman. Kudapan berbahan dasar beras ketan ini tetap dikenal masyarakat karena memiliki cita rasa manis, legit, serta tekstur khas yang dihasilkan dari proses pembuatan secara tradisional.
Keberadaan wajik ketan gula merah tidak terlepas dari penggunaan bahan-bahan berkualitas dan proses pengolahan yang membutuhkan ketelatenan. Beras ketan dan gula merah asli menjadi bahan utama yang menentukan cita rasa khas kudapan tradisional tersebut.
Maya, salah seorang pelaku usaha kue tradisional, mengatakan pemilihan bahan menjadi salah satu hal penting dalam membuat wajik. Menurutnya, beras ketan yang berkualitas dan gula merah asli dapat menghasilkan rasa yang lebih khas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Gunakan beras ketan yang bagus dan gula merah asli supaya rasanya keluar. Jangan campur dengan gula biasa terlalu banyak, nanti rasanya kurang khas,” ujarnya.
Sebelum diolah, beras ketan perlu direndam selama beberapa jam. Tahapan tersebut dilakukan agar ketan menjadi lebih pulen ketika dimasak.
Setelah direndam, ketan dikukus hingga setengah matang. Selanjutnya, ketan dimasak kembali bersama larutan gula merah dan santan. Proses pengadukan harus dilakukan secara telaten agar adonan tidak gosong dan dapat matang secara merata.
“Proses pengadukan ini yang penting, harus sabar supaya tidak gosong dan hasilnya merata,” tambahnya.
Sementara itu, Lilis menuturkan teknik memasak turut menentukan kualitas wajik yang dihasilkan. Ia menyarankan adonan dimasak menggunakan api kecil sambil terus diaduk hingga mengental dan mengeluarkan minyak.
“Masak dengan api kecil sambil terus diaduk sampai adonan mengental dan berminyak. Itu tandanya wajik sudah matang dan siap dicetak,” jelasnya.
Lilis juga mengingatkan agar penggunaan santan diperhatikan selama proses memasak. Santan segar harus terus diaduk agar tidak pecah karena kondisi tersebut dapat memengaruhi tekstur wajik.
“Gunakan santan segar dan aduk terus supaya tidak pecah. Kalau santan pecah, teksturnya jadi kurang bagus,” katanya.
Setelah adonan matang, wajik kemudian dicetak menggunakan loyang atau wadah yang telah diolesi sedikit minyak. Cara tersebut dilakukan agar adonan tidak lengket sehingga lebih mudah dipotong setelah dingin.
“Supaya tidak lengket dan mudah dipotong setelah dingin,” ujarnya.
Dengan bahan sederhana, cita rasa khas, serta proses pembuatan yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, wajik ketan gula merah tetap bertahan sebagai salah satu kuliner tradisional yang dikenal masyarakat hingga kini.








Komentar