Papeda Bukan Sekadar Makanan, Ada Nilai Budaya Masyarakat Papua dan Maluku

- Author

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PAPUA – MALUKU – Papeda bukan sekadar makanan pokok bagi masyarakat Papua dan Maluku. Kuliner berbahan dasar sagu ini memiliki tekstur khas yang kental, lengket, dan kenyal, sekaligus menyimpan nilai budaya yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial, tradisi, hingga berbagai ritual adat masyarakat setempat.

Papeda umumnya disajikan bersama lauk bercita rasa kuat, salah satunya ikan dengan kuah kuning. Kuah tersebut biasanya dibuat menggunakan sejumlah rempah seperti kunyit, jahe, serai, dan bawang, serta dapat ditambahkan bahan bercita rasa asam.

Berbahan Dasar Sagu

Bahan utama papeda adalah tepung sagu yang diolah hingga menghasilkan tekstur kental dan elastis dengan warna putih hingga bening. Sagu sendiri memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber pangan masyarakat di wilayah Papua dan Maluku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, keberadaan papeda tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang telah lama memanfaatkan sagu sebagai sumber makanan. Penyajiannya pun memiliki kekhasan tersendiri, termasuk menggunakan dua alat kayu untuk mengambil dan menggulung papeda sebelum diletakkan ke dalam piring.

Papeda biasanya disantap bersama ikan, seperti tuna, tongkol, kakap, atau cakalang, tergantung wilayah dan bahan pangan yang tersedia di daerah masing-masing.

Memiliki Makna bagi Masyarakat Papua

Di Papua, papeda dikenal luas di sejumlah komunitas adat, termasuk masyarakat Sentani dan Arso di Jayapura serta masyarakat di Manokwari. Bagi masyarakat setempat, sagu tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan, tetapi juga memiliki hubungan dengan lingkungan dan kehidupan budaya.

Dalam sejumlah cerita masyarakat Papua, terdapat mitologi yang mengaitkan sagu dengan kisah penciptaan atau perubahan manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa sagu dan makanan yang dihasilkannya memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan budaya masyarakat.

Hadir dalam Berbagai Ritual Adat

Nilai budaya papeda juga terlihat dari penggunaannya dalam berbagai kegiatan adat. Makanan ini dapat hadir dalam ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat.

Salah satunya adalah tradisi Watani Kame yang menandai berakhirnya masa berkabung atau siklus kematian. Dalam tradisi tersebut, papeda dibagikan kepada orang-orang yang telah membantu pelaksanaan upacara.

Di Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan, papeda juga memiliki peran dalam tradisi yang berkaitan dengan kelahiran anak pertama.

Sementara itu, masyarakat di Pulau Seram, Maluku, mengenal papeda dengan sebutan sonar monne. Makanan tersebut dapat disajikan dalam ritual yang berkaitan dengan masa pubertas seorang perempuan.

Pada masyarakat Nuaulu dan Huaulu di Seram, terdapat pula pantangan bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk memasak papeda. Hal ini menjadi salah satu bagian dari aturan dan kepercayaan yang hidup dalam tradisi masyarakat setempat.

Lebih dari Sekadar Makanan

Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan bahwa papeda memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar makanan pokok. Keberadaannya berkaitan dengan hubungan masyarakat terhadap lingkungan, tradisi, serta kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Papeda pada akhirnya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Papua dan Maluku. Makanan berbahan sagu ini tidak hanya menggambarkan kekayaan pangan lokal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi bagian penting dari tradisi dan kehidupan masyarakat.

Baca Juga:  Pusat Kuliner Kota Barat Solo, Surga Kuliner Malam dengan Beragam Pilihan Menu

PAPUA – MALUKU – Papeda bukan sekadar makanan pokok bagi masyarakat Papua dan Maluku. Kuliner berbahan dasar sagu ini memiliki tekstur khas yang kental, lengket, dan kenyal, sekaligus menyimpan nilai budaya yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial, tradisi, hingga berbagai ritual adat masyarakat setempat.

Papeda umumnya disajikan bersama lauk bercita rasa kuat, salah satunya ikan dengan kuah kuning. Kuah tersebut biasanya dibuat menggunakan sejumlah rempah seperti kunyit, jahe, serai, dan bawang, serta dapat ditambahkan bahan bercita rasa asam.

Berbahan Dasar Sagu

Bahan utama papeda adalah tepung sagu yang diolah hingga menghasilkan tekstur kental dan elastis dengan warna putih hingga bening. Sagu sendiri memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber pangan masyarakat di wilayah Papua dan Maluku.

Karena itu, keberadaan papeda tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang telah lama memanfaatkan sagu sebagai sumber makanan. Penyajiannya pun memiliki kekhasan tersendiri, termasuk menggunakan dua alat kayu untuk mengambil dan menggulung papeda sebelum diletakkan ke dalam piring.

Papeda biasanya disantap bersama ikan, seperti tuna, tongkol, kakap, atau cakalang, tergantung wilayah dan bahan pangan yang tersedia di daerah masing-masing.

Memiliki Makna bagi Masyarakat Papua

Di Papua, papeda dikenal luas di sejumlah komunitas adat, termasuk masyarakat Sentani dan Arso di Jayapura serta masyarakat di Manokwari. Bagi masyarakat setempat, sagu tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan, tetapi juga memiliki hubungan dengan lingkungan dan kehidupan budaya.

Dalam sejumlah cerita masyarakat Papua, terdapat mitologi yang mengaitkan sagu dengan kisah penciptaan atau perubahan manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa sagu dan makanan yang dihasilkannya memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan budaya masyarakat.

Hadir dalam Berbagai Ritual Adat

Nilai budaya papeda juga terlihat dari penggunaannya dalam berbagai kegiatan adat. Makanan ini dapat hadir dalam ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat.

Salah satunya adalah tradisi Watani Kame yang menandai berakhirnya masa berkabung atau siklus kematian. Dalam tradisi tersebut, papeda dibagikan kepada orang-orang yang telah membantu pelaksanaan upacara.

Di Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan, papeda juga memiliki peran dalam tradisi yang berkaitan dengan kelahiran anak pertama.

Sementara itu, masyarakat di Pulau Seram, Maluku, mengenal papeda dengan sebutan sonar monne. Makanan tersebut dapat disajikan dalam ritual yang berkaitan dengan masa pubertas seorang perempuan.

Pada masyarakat Nuaulu dan Huaulu di Seram, terdapat pula pantangan bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk memasak papeda. Hal ini menjadi salah satu bagian dari aturan dan kepercayaan yang hidup dalam tradisi masyarakat setempat.

Lebih dari Sekadar Makanan

Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan bahwa papeda memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar makanan pokok. Keberadaannya berkaitan dengan hubungan masyarakat terhadap lingkungan, tradisi, serta kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Papeda pada akhirnya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Papua dan Maluku. Makanan berbahan sagu ini tidak hanya menggambarkan kekayaan pangan lokal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi bagian penting dari tradisi dan kehidupan masyarakat.

Berita Terkait

Coto Manggala, Kuliner Khas Pangkalan Bun yang Nikmat Disantap di Tepi Sungai Arut
25 Warga Tambaksari Ikuti Pelatihan Bogasari, UKM Kuliner Didorong Naik Kelas
Santap Siang dengan Nasi Goreng Babat, Nikmat Gurih dengan Cita Rasa Nusantara
Wajib Coba! Deretan Ayam Goreng Legendaris dengan Cita Rasa Rempah di Purwokerto
Wajik Ketan Gula Merah, Kuliner Tradisional yang Tetap Eksis di Tengah Zaman
Jadah Tempe Kaliurang, Perpaduan Gurih dan Manis yang Jadi Kuliner Favorit
Dari Dapur Rumah hingga Amerika, Pempek Palembang Ini Tembus Pasar Internasional
Bumbu Kacang Pekat Jadi Andalan, Lotek Bu Yanto Purwokerto Bertahan Sejak 1997

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:05 WIB

Coto Manggala, Kuliner Khas Pangkalan Bun yang Nikmat Disantap di Tepi Sungai Arut

Senin, 28 September 2026 - 15:02 WIB

Santap Siang dengan Nasi Goreng Babat, Nikmat Gurih dengan Cita Rasa Nusantara

Senin, 28 September 2026 - 14:28 WIB

Wajib Coba! Deretan Ayam Goreng Legendaris dengan Cita Rasa Rempah di Purwokerto

Kamis, 24 September 2026 - 12:18 WIB

Wajik Ketan Gula Merah, Kuliner Tradisional yang Tetap Eksis di Tengah Zaman

Kamis, 24 September 2026 - 11:48 WIB

Jadah Tempe Kaliurang, Perpaduan Gurih dan Manis yang Jadi Kuliner Favorit

Berita Terbaru