KABUPATEN BEKASI – Berawal dari berjualan dengan cara dipikul keliling, Sate Kikil Kong Nata kini dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Usaha yang dirintis sejak 1967 itu mampu bertahan hampir enam dekade dan terus melanjutkan tradisi keluarga hingga generasi ketiga.
Sate Kikil Kong Nata berlokasi di Jalan Setiadarma I, tepatnya di belakang Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi. Cita rasa yang dipertahankan sejak awal menjadi salah satu alasan kuliner ini tetap dikenal dan diminati pelanggan.
Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh Kong Nata pada 1967. Pada masa awal berjualan, ia menjajakan sate kikil dengan cara dipikul dari satu tempat ke tempat lain. Seiring waktu, usahanya berkembang hingga menggunakan gerobak dan akhirnya menetap di sekitar Pasar Tambun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah Kong Nata meninggal dunia pada 2017, usaha keluarga ini diteruskan oleh anak dan keturunannya. Kini, Sate Kikil Kong Nata sudah dikelola generasi ketiga dengan melibatkan empat anggota keluarga yang bekerja sama menjaga keberlangsungan usaha.
Salah satu penerusnya, Tama, mengatakan usaha tersebut tetap mempertahankan resep dan cita rasa yang diwariskan keluarga. Sementara itu, sang kakak, Ibu Sumi, turut menjaga racikan bumbu agar rasa sate kikil tidak berubah.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan waktu. Tama biasanya mulai berjualan pada pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, giliran Ibu Sumi melanjutkan aktivitas berjualan hingga pukul 13.00 WIB, kemudian diteruskan anggota keluarga lainnya sampai sore.
Pertahankan Resep Sejak Puluhan Tahun
Sate Kikil Kong Nata menggunakan bahan utama kulit sapi atau kikil yang masih memiliki bagian daging atau tetelan. Teksturnya kenyal dengan cita rasa khas yang menjadi daya tarik bagi para pelanggan.
Untuk menjaga kualitas bahan baku, pada masa sebelumnya Kong Nata mendapatkan kikil dari rumah pemotongan hewan di kawasan Matraman, Jakarta.
Perjalanan usaha ini juga menyimpan cerita tentang perubahan harga. Ketika pertama kali dijual pada 1967, pelanggan bisa mendapatkan 10 tusuk sate dengan harga Rp1.000. Memasuki era 1980-an, harganya berubah menjadi Rp3.000.
Selain sate kikil, keluarga Kong Nata kemudian menambahkan nasi uduk sebagai pelengkap. Penyajiannya pun masih mempertahankan cara tradisional, yakni dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang.
Hampir 60 tahun berlalu, Sate Kikil Kong Nata tetap bertahan sebagai warisan kuliner keluarga. Dari berjualan dengan cara dipikul keliling hingga dikenal sebagai kuliner legendaris di Tambun Selatan, usaha ini menjadi bukti bahwa resep dan tradisi yang dijaga lintas generasi dapat membuat sebuah usaha terus hidup.








Komentar