TAMBUN – Usaha bakso cuanki khas Bandung milik Yanto di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, berkembang pesat dari yang awalnya hanya menggunakan satu gerobak hingga kini memiliki dua gerobak dan mempekerjakan delapan karyawan.
Ramainya pembeli membuat kuliner pinggir jalan tersebut semakin dikenal masyarakat. Setiap sore mulai pukul 17.00 WIB, lapak bakso cuanki yang berada di pelataran parkir Kantor Cabang Pembantu Bank BNI Walet, Jalan Sultan Hasanudin, Desa Tambun, dipadati pelanggan.
Sebagian besar pembeli merupakan pekerja yang datang setelah menyelesaikan aktivitasnya. Ada pula pelanggan yang sengaja kembali karena sudah cocok dengan cita rasa bakso cuanki yang ditawarkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau lagi pengen, saat tidak kerja tetep ke sini,” kata Pepi, seorang karyawan pabrik asal Mekarsari, Tambun Selatan.
Berawal dari Satu Gerobak, Kini Punya Dua
Yanto mengawali usahanya dengan satu gerobak bakso cuanki. Namun, jumlah pembeli yang terus meningkat membuat dagangannya kerap habis sebelum pukul 21.00 WIB.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Yanto akhirnya menambah satu gerobak lagi. Langkah tersebut juga dilakukan agar pembeli yang datang dari jauh tidak kecewa karena kehabisan makanan.
“Dulu hanya satu gerobak, sekarang ada dua karena kasihan yang datang dari jauh sering nggak kebagian,” ujar Yanto, yang tinggal di belakang lokasi berjualan.
Selain bakso cuanki, Yanto turut menyediakan batagor atau bakso tahu goreng serta siomay Bandung. Beragam pilihan tersebut menjadi daya tarik bagi pelanggan yang ingin menikmati kuliner khas Bandung dalam satu tempat.
Sekilas, cuanki Bandung dan bakso Malang memang terlihat serupa. Namun, keduanya memiliki perbedaan dari segi variasi isian, cita rasa kuah, hingga cara penyajiannya.
Pekerjakan Delapan Karyawan dari Bandung
Seiring berkembangnya usaha, Yanto kini mempekerjakan delapan orang karyawan. Mereka dibagi untuk melayani dua gerobak, masing-masing terdiri dari empat orang.
Para karyawan tersebut didatangkan dari Sukajadi, Kota Bandung. Sebagian bertugas melayani pembeli, sedangkan lainnya menyiapkan dan menggoreng batagor langsung di lokasi.
Setiap malam, Yanto menggoreng batagor dengan bahan isian sekitar 50 kilogram untuk setiap gerobak. Bahan yang digunakan antara lain terigu, tepung tapioka, tepung beras, gula, air, dan garam.
“ Ada Batagor, sambel dan juga kuah,” tutur Yanto.
Jualan hingga Dini Hari, Cuanki Dibanderol Rp12 Ribu
Lapak bakso cuanki tersebut mulai beroperasi pada sore hari dan biasanya tutup sekitar pukul 01.00 WIB. Namun, ketika pembeli sedang ramai, dagangan bisa habis lebih cepat.
Saat pemberitaan ini diterbitkan pada 2022, satu porsi bakso cuanki dijual dengan harga Rp12 ribu. Sementara itu, batagor dapat dibeli sesuai jumlah yang diinginkan pelanggan.
Selain melayani pembeli yang makan langsung di lokasi, Yanto juga menerima pesanan untuk dibawa pulang. Bakso cuanki dan batagor menjadi pilihan pelanggan untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Bahkan, ada pula pembeli yang secara khusus membeli kerupuk goreng hingga mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah.
Perjalanan usaha Yanto menunjukkan bagaimana bisnis kuliner sederhana yang dimulai dari satu gerobak dapat berkembang. Dari lapak pinggir jalan di Tambun, usahanya kini memiliki dua gerobak dan membuka lapangan pekerjaan bagi delapan orang.








Komentar